Home arrow Artikel arrow Kesejahteraan Anak arrow Parenting arrow Rangkuman siaran Radio IMSIS : Hijab for Girls
Mutiara Hikmah
"Demi Allah apabila Allah memberi hidayat kepada seorang karena ajaranmu, maka
itu bagimu lebih baik/lebih untung daripada kekayaan ternak yang merah-merah."
 (Bukhari, Muslim)
 
Main Menu
Home
Berita
Tentang Kami
Kegiatan
Artikel
Donasi
Radio IMSIS
Warung IMSA
Referensi
Muktamar
Summer Training Camp (STC)
Jadwal Kegiatan
September 2010 October 2010
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 35 1 2 3 4
Week 36 5 6 7 8 9 10 11
Week 37 12 13 14 15 16 17 18
Week 38 19 20 21 22 23 24 25
Week 39 26 27 28 29 30
Rangkuman siaran Radio IMSIS : Hijab for Girls PDF Print E-mail
Written by Tim Radio Imsa sisters   
Tuesday, 11 November 2008
Assalamualaykum wrwb

Ini adalah sebagian dari catatan siaran Parenting Sabtu kemarin :Hijab for Girls. Siapa tahu bermanfaat. Mohon maaf jika ada yang salah dan tidak berkenan.

Wassalam,
Mamiek

http://mamieksyamil.multiply.com/journal/item/177/Hijab_For_Girls_Kiat_dan_hasil_Sharing


1. Niat yang kuat dari orang tua. Niat ini bisa dimulai kapan saja. Tetapkan TARGET kapan hijab akan mulai diperkenalkan kepada si anak.  Semakin awal semakin baik. Bahkan tetapkan DEADLINE kapan si anak hendaknya mulai memakai hijab. Deadline ini tidak perlu “saklek” (harga mati). Sebagai contoh, saat Jasmine berusia 4 tahun saya bercita-cita (menetapkan target) bahwa Jasmine harus mulai pakai hijab saat kelas 2. Ternyata selama proses pengenalan hijab itu tidak terlalu berjalan mulus. Hingga akhirnya Jasmine memberi deadline sendiri bahwa dia akan pakai hijab saat 4th grade.
Harus diperhatikan bahwa seringkali semakin besar anak akan semakin sulit untuk memintanya memakai hijab, karena si anak sudah pada tahap menyadari bahwa bagian dari badannya merupakan daya tarik dirinya. Pada tahap ini tugas orang tua menjadi semakin berat.
Mau jalan pintas yang lebih mudah, no hassle? Pakaikan hijab sejak bayi. Tapi hati-hati dengan suffocation. Jangan sampai karena ingin memakaikan hijab sejak bayi justru membahayakan si anak (juga hendaknya tidak berasumsi “karena tidak pernah terjadi maka bahaya itu tidak ada”).

2. Sepakat dengan suami/istri termasuk memblokir komentar dari extended family (apalagi jika mereka tinggal berdekatan dengan anda) kalau seandainya ada diantara mereka yang against the mission.

3. Orang tua (dalam hal ini ibu tentunya) harus memberi contoh. Kalau sang ibu sudah memakai kerudung, terlihatlah cantik di depan anak (resek juga sih, terutama buat saya yang sering cuek). Ada jenis anak tertentu yang suka mengidolakan cara ibunya berpakaian. Kalau ibunya terlihat cantik, maka anak-anak ini akan meniru. Tidak hilang rasa percaya dirinya. Kalau sang ibu belum memakai kerudung, maka jadikan rencana untuk sang putri sebagai trigger pendorong untuk sang ibu. Misal, kalau target sang putri anak memakai hijab 2 tahun lagi, maka insya Allah si ibu akan mendahului memakai setahun lagi. Sebenarnya untuk orang dewasa prosesnya bisa lebih frontal, misal besok pagi mulai pakai (kalau dipikir-pikir terus memang nggak akan terjadi, jadi ada unsur “tekad bulat” kayak buggy jumping itu loh, not so bad after all).  

4. Pendidikan agama yang memadai: membahas soal memakai hijab dengan anak-anak dalam berbagai kesempatan, sediakan buku-buku yang berkaitan dengan memakai hijab.
Si orang tua sendiri harus yakin bahwa memakai hijab itu wajib seperti halnya sholat. Hindari membaca dan mengkaji “fatwa” dan ucapan para “ahli agama” yang menyatakan bahwa hijab itu hanya culture dsb. That’s misleading. Kalau seandainya pernyataan mereka benar, maka dengan memakai hijab anda nggak akan masuk neraka. Kalau pernyataan mereka salah (dan anda mengikuti mereka dengan tidak memakai hijab) maka mereka bisa mendorong anda ke neraka. Naudzubillah… Hendaklah menghindari berpikiran ,”Ah, orang tua saya dulu nggak repot amat. Toh saya baik-baik saja. Akhirnya pakai hijab juga.” Sebagian besar kita dulunya besar di Indonesia dimana orang tua tidak terlalu repot mengajarkan anaknya soal agama (toh di sekolah ada pelajaran agama, di ujung gang ada masjid, tetangga sholat, paman, tante, kakek, nenek juga sholat jadi bisa ikut sholat siapa saja dan ke masjid sama siapa saja).  Sebaliknya, kalau kita tinggal di US, maka orang tualah sumber utama pengajaran agama. Kalau orang tuanya tidak mengajak sholat, membawa ke masjid, mengenalkan hijab, puasa dsb maka nobody will do it for your children.  

5. Sering-sering bertemu dan bersama dengan teman yang memberi suasana kondusif untuk si anak. Kadang anak akan lebih merasa mendapat support kalau bersama dengan teman yang juga memakai hijab. Jadi, kalau anak kita belum memakai hijab, sarankan agar dia juga memakai hijab jika akan bermain dengan teman yang memakai hijab. Dengan demikian siapa tahu anak kita akan lebih tertarik untuk memakai hijab. Atau seandainya di antara teman-temannya belum ada yang memakai hijab, usahakan untuk mengambil inisiatif sehingga terjadi saling support.

6. Biasakan memakai hijab sedikit demi sedikit. Misal setiap keluar rumah, ke mall, ke rumah teman, jalan-jalan, selalu minta mereka untuk memakai hijabnya. Sedikit demi sedikit, mulailah untuk mengganti bajunya yang lengan pendek/celana pendek/rok pendek dengan baju lengan panjang dan celana panjang/rok panjang. Untuk anda yang tinggal di US (negara 4 musim) belilah baju untuk musim panas pada saat musim semi dan fall. Baju spring dan fall biasanya banyak dijual baju lengan panjang/celana panjang dari bahan katun. Ini cocok dipakai untuk musim panas bagi mereka yang memakai hijab. Di musim panas akan susah mencari baju lengan panjang. Saran saya jika ingin mulai pakai hijab terutam untuk putrinya, mulailah saat fall, karena baju lengan panjang dan celana panjang plus hijab akan terasa hangat dan nyaman. Nanti saat summer si anak insha Allah sudah terbiasa memakai hijab. 

7. Persiapkan hijab yang sesuai dengan kepribadian dan kesukaan anak. Setiap anak mempunyai personality tersendiri. Ada yang suka hijab dengan manik-manik meriah, ada yang suka sederhana .  Ajak anak untuk memilih hijabnya (bisa lewat internet, bazaar dsb, atau kalau di Indonesia lebih gampang lagi, bisa langsung ke toko).  Atau membuat hijab sendiri dengan bantuan mereka (membeli kain, mendesain, menjahit , menghiasnya).  

8. Mendidik anak untuk tidak menjadi sombong jika sudah mulai berhijab. Misal karena si anak memakai hijab dan banyak mendapat pujian, maka itu bisa menjadi sumber kesombongan.  Bibit kesombongan itu bisa diperlihatkan dengan memberi komentar yang tidak menyenangkan kepada teman yang tidak memakai hijab.  

9. Memakai hijab bukanlah tujuan akhir dalam mendidik anak. Jangan sampai karena didikan kita yang kuat dalam keyakinan memakai hijab membuat dia berkomentar yang bernada memojokkan kepada orang dewasa yang tidak memakai hijab, misal ,”Tante kok nggak pakai hijab sih, kan wajib?” That’s not nice. Orang lain memaki hijab atau tidak, that’s not our business. Anehnya, banyak orang tua yang menganggap ucapan seperti itu lucu karena diucapkan oleh anak kecil.
Masih ingat bukunya Mbak Asma Nadia “Jangan jadi muslimah nyebelin”? Jangan sampai anak kita nantinya menjadi muslimah yang nyebelin juga. Naudzubillah….
Menjadi muslimah itu berarti harus menjadi pribadi yang menyenangkan dan menentramkan.  

10. Bagaimana jika anak sudah remaja atau dewasa tapi belum juga memakai hijab? Tidak ada kata terlambat. Berikan dorongan (tapi tidak nagging yah). Dan saat tertentu cetuskan harapan kepadanya ,”Mommy pengin banget kamu pakai hijab.” Meskipun anak kita mungkin melengos, atau pura-pura nggak denger, tapi insya Allah akan dimasukkan ke dalam hati. Sama persis dengan orang tua yang sering bilang ,”Ibu pengin kamu jadi …polisi, jadi dokter, jadi insinyur, jadi pengusaha dsb”. Insya Allah anak-anak akan mendengar harapan orang tuanya.  Seperti iklan anti rokok atau anti drug,”Talk, they’ll listen.”  

11. Don’t judge other parents.  Jika putri teman anda belum berhijab, berdoalah untuk mereka, berikah mereka support. Insha Allah itu lebih berefek positif.
Juga, don't judge and don't have prejudice kepada mereka yang membiasakan anaknya memakai hijab sejak kecil.


Happy Parenting!


 
< Prev   Next >
© 2010 Indonesian Muslim Society in America - Sisters (IMSA Sisters)
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.