|
Written by Mitha
|
|
Saturday, 15 October 2005 |
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhanku Allah kemudian mereka istiqomah, maka mereka tidak ada rasa takut dan tidak berduka cita” (QS. 46 : 13)
Kata istiqomah, jika dirunut ke akar katanya, berasal dari kata qoomaa, yang artinya tegak, berdiri. Secara definisi istiqomah bermakna memiliki pendirian yang kuat/komitmen dalam mempertahankan nilai-nilai Islam dan memperjuangkan penegakannya secara konsisten hingga akhir hayat kita.
Seperti contoh seorang anak yang mengatakan mudah untuk melaksanakan sholat lima waktu sehari. Oleh ibunya ditanya, “bisakah tetap mudah dilaksanakan hingga dewasa yang sibuk dengan bisnis/jabatan, urusan rumah tangga, ataupun sibuk belajar?”
Istiqomah merupakan perintah yang paling berat bagi Rasulullah, yakni ketika ayat berikut tutun kepadanya,
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan juga orang-orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 11 : 112).
Ibnu Abbas, seorang sahabat yang ahli tafsir, mengatakan: “Tidak diturunkan sebuah ayatpun dalam Al-Qur’an kepada Rasulullah Saw yang lebih berat daripada ayat ini hingga sahabat-sahabat berkata kepada beliau : “rambut engkau cepat beruban wahai Rasulullah”. Rasulullah menjawab : “Surat hud dan kawan-kawannya telah menyebabkan rambut saya cepat beruban”. (seperti yang dikutip oleh Muhammad Ali Ash Shabuny dalam tafsirnya).
Mengapa berat? Ini karena menyangkut martabat manusia. Kemuliaan dan kehinaan seseorang sangat tergantung keistiqomahannya dalam memegang prinsip-prinsip kebenaran.
Istiqomah dalam aqidah berarti tidak mencampuri keimanan kepada Allah dengan sesuatu yang lain, seperti sifat riya hingga syirik, walau cobaan/ujian apapun yang menimpa kita. Misalnya, bila sudah yakin bahwa berobat ke dukun itu syirik, namun karena merasa tidak ada pilihan lain, minta bantuan juga ke dukun. Atau menggunakan jimat untuk naik jabatan, dlsb. “Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana yang nenek moyang mereka menyambah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya terhadap mereka dengan tidak megurangi sedikitpun” (QS. 11 : 109).
Istiqomah dalam syari’at dan akhlak berarti komitmen menjalani syariah yang sudah ditetapkan dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. “Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. 45 : 18).
“ Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini dalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa” (QS. 6 : 153).
Contohnya, benci dgn perzinahan, namun melakukannya juga demi untuk membiayai sekolah anak. Awalnya jujur, namun karena terdesak hutang atau ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain, akhirnya berbohong. Atau yang sering terjadi pada da’i, yang berda’wah murni lillahi ta’ala, namun karena tergiur oleh tawaran harta dan kedudukan akhirnya menjadikan da’wah sebagai alat mencapai tujuan dan mau saja mengeluarkan fatwa-fatwa yang menyesatkan umat.
Sedangkan istiqomah dalam perjuangan, adalah meyakini misi kebenaran yang kita perjuangkan kemudian memperjuangkannya secara terus menerus, baik dalam keadaan senang maupun susah, banyak pengikut atau sedikit pengikutnya bahkan saat tidak ada penentang maupun banyak yang menentang.
“Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan : “mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat ?”. Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah pemelihara segala sesuatu” (QS. 11 : 12)
Rasulullah dan para sahabat r.a serta para nabi-nabi sebelumnya berjuang menyampaikan kebenaran tauhid ilahi dengan kendala yang kadang menyesakkan dada, melemahkan fisik, bahkan kehilangan orang-orang yang disayangi. Namun mereka semua tetap istiqomah berjuang. Seperti Nabi Nuh yang tetap berda’wah hingga ratusan tahun walau dengan sedikit pengikut dan kehilangan istri serta anaknya, karena yakin akan pertolongan Allah dan surga sebagai tempat kembali.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih : dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalammnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) didalamnya apa yang kamu minta”. (QS. 41 : 30-31).
Bagaimana belajar istiqomah? Misalnya memasang target khatam Al Quran di bulan Romadhon kali ini. Lalu bagaimana caranya biar dapat konsisten dgn target tsb?
Ada bbp cara: 1. Senantiasa memperbaharui niat, spt kita memperbaharui syahadah kita sedikitnya 9 kali, sehingga motivasi tetap konsisten. 2. Mengatur waktu untuk tilawah/mengaji dalam sehari dengan waktu lainnya, spt memasak, mengurus rumah, bekerja di luar rumah dan juga mendidik anak. Dan membagi bacaan menjadi 1 juz perhari atau 2 lembar setiap selesai sholat. 3. Berkorban atau istilahnya bermujahadah memerangi hawa nafsu sendiri, karena Romadhon hanya hawa nafsu yg kita perangi dan syaitan sdg dibelenggu oleh Allah swt. Berusaha dan memaksakan diri walau kantuk atau rasa malas datang. 4. Sadar bahwa bila tidak tercapai target 1 juz sehari, maka berarti menambah beban di hari berikutnya. Bila terjadi, memberi sanksi kepada diri sendiri baik juga. Seperti seorang sahabat r.a yang meberikan sebagian kebun yang beliau punya karena membuatnya terlena dan terlambat sholat berjama’ah di mesjid. 5. Sabar menjalaninya karena yakin
Begitu seterusnya hingga kita dapat melatih diri dan menjadikan tilawah sbg bagian dari amalan harian kita yang Insya Allah akan dinilai Allah. Amin.
Begitu juga untuk amalan/ibadah lainnya.
Wallahu a'lam bishshowab
Imar
|