Home arrow Artikel arrow Dakwah arrow Hikmah Ramadhan 1426H arrow Yuk Belajar Istiqomah!
Mutiara Hikmah
Abu Musa Al-Asy'ary r.a berkata: Bersabda Nabi SAW  "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan rahmat-Nya pada waktu malam supaya bertobat orang yang telah melanggar pada siang hari, juga mengulurkan tangan kemurahan-Nya pada waktu siang, supaya bertobat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan itu tetap terus hingga matahari terbit dari barat."(Muslim)
 
Main Menu
Home
Berita
Tentang Kami
Kegiatan
Artikel
Donasi
Radio IMSIS
Warung IMSA
Referensi
Muktamar
Summer Training Camp (STC)
Jadwal Kegiatan
February 2010 March 2010 April 2010
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 9 1 2 3 4 5 6
Week 10 7 8 9 10 11 12 13
Week 11 14 15 16 17 18 19 20
Week 12 21 22 23 24 25 26 27
Week 13 28 29 30 31
Yuk Belajar Istiqomah! PDF Print E-mail
Written by Mitha   
Saturday, 15 October 2005
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhanku
Allah kemudian mereka istiqomah, maka mereka tidak ada
rasa takut dan tidak berduka cita” (QS. 46 : 13)

Kata istiqomah, jika dirunut ke akar katanya, berasal
dari kata qoomaa, yang artinya tegak, berdiri. Secara
definisi istiqomah bermakna memiliki pendirian  yang
kuat/komitmen dalam mempertahankan nilai-nilai Islam
dan memperjuangkan penegakannya secara konsisten
hingga akhir hayat kita.

Seperti contoh seorang anak yang mengatakan mudah
untuk melaksanakan sholat lima waktu sehari. Oleh
ibunya ditanya, “bisakah tetap mudah dilaksanakan
hingga dewasa yang sibuk dengan bisnis/jabatan, urusan
rumah tangga, ataupun sibuk belajar?”

Istiqomah merupakan perintah yang paling berat bagi
Rasulullah, yakni ketika ayat berikut tutun kepadanya,

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana
yang diperintahkan kepadamu dan juga orang-orang yang
telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu
melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan”. (QS. 11 : 112).

Ibnu Abbas, seorang sahabat yang ahli tafsir,
mengatakan: “Tidak diturunkan sebuah ayatpun dalam
Al-Qur’an kepada Rasulullah Saw yang lebih berat
daripada ayat ini hingga sahabat-sahabat berkata
kepada beliau : “rambut engkau cepat beruban wahai
Rasulullah”. Rasulullah menjawab : “Surat hud dan
kawan-kawannya telah menyebabkan rambut saya cepat
beruban”. (seperti yang dikutip oleh Muhammad Ali Ash
Shabuny dalam tafsirnya).

Mengapa berat? Ini karena menyangkut martabat manusia.
Kemuliaan dan kehinaan seseorang sangat tergantung
keistiqomahannya dalam memegang prinsip-prinsip
kebenaran.

Istiqomah dalam aqidah berarti tidak mencampuri
keimanan kepada Allah dengan sesuatu yang lain,
seperti sifat riya hingga syirik, walau cobaan/ujian
apapun yang menimpa kita. Misalnya, bila sudah yakin
bahwa berobat ke dukun itu syirik, namun karena merasa
tidak ada pilihan lain, minta bantuan juga ke dukun.
Atau menggunakan jimat untuk naik jabatan, dlsb.
“Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan
tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidak
menyembah melainkan sebagaimana yang nenek moyang
mereka menyambah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti
akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya terhadap
mereka dengan tidak megurangi sedikitpun”  (QS. 11 :
109).

Istiqomah dalam syari’at dan akhlak berarti komitmen
menjalani syariah yang sudah ditetapkan dalam Al Quran
dan Sunnah Rasul.
“Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu
syariat, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak
mengetahui” (QS. 45 : 18).

“ Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini dalah jalanKu
yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan
itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu
bertaqwa” (QS. 6 : 153).

Contohnya, benci dgn perzinahan, namun melakukannya
juga demi untuk membiayai sekolah anak. Awalnya jujur,
namun karena terdesak hutang atau ingin mendapatkan
penghargaan dari orang lain, akhirnya berbohong. Atau
yang sering terjadi pada da’i, yang berda’wah murni
lillahi ta’ala, namun karena tergiur oleh tawaran
harta dan kedudukan akhirnya menjadikan da’wah sebagai
alat mencapai tujuan dan mau saja mengeluarkan
fatwa-fatwa yang menyesatkan umat.

Sedangkan istiqomah dalam perjuangan, adalah meyakini
misi kebenaran yang kita perjuangkan kemudian
memperjuangkannya secara terus menerus, baik dalam
keadaan senang maupun susah, banyak pengikut atau
sedikit pengikutnya bahkan saat tidak ada penentang
maupun banyak yang menentang.

“Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian
dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya
dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan :
“mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan
(kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang
malaikat ?”. Sesungguhnya kamu hanyalah seorang
pemberi peringatan dan Allah pemelihara segala
sesuatu” (QS. 11 : 12)

Rasulullah dan para sahabat r.a serta para nabi-nabi
sebelumnya berjuang menyampaikan kebenaran tauhid
ilahi dengan kendala yang kadang menyesakkan dada,
melemahkan fisik, bahkan kehilangan orang-orang yang
disayangi. Namun mereka semua tetap istiqomah
berjuang. Seperti Nabi Nuh yang tetap berda’wah hingga
ratusan tahun walau dengan sedikit pengikut dan
kehilangan istri serta anaknya, karena yakin akan
pertolongan Allah dan surga sebagai tempat kembali.

“Sesungguhnya    orang-orang yang mengatakan: “Tuhan
kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan) : “Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kamu merasa sedih : dan bergembiralah kamu
dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan
kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam
kehidupan dunia dan akhirat, didalammnya kamu
memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh
(pula) didalamnya apa yang kamu minta”. (QS. 41 :
30-31).

Bagaimana belajar istiqomah? Misalnya memasang target
khatam Al Quran di bulan Romadhon kali ini. Lalu
bagaimana caranya biar dapat konsisten dgn target tsb?

Ada bbp cara:
1. Senantiasa memperbaharui niat, spt kita
memperbaharui syahadah kita sedikitnya 9 kali,
sehingga motivasi tetap konsisten.
2. Mengatur waktu untuk tilawah/mengaji dalam sehari
dengan waktu lainnya, spt memasak, mengurus rumah,
bekerja di luar rumah dan juga mendidik anak. Dan
membagi bacaan menjadi 1 juz perhari atau 2 lembar
setiap selesai sholat.
3. Berkorban atau istilahnya bermujahadah memerangi
hawa nafsu sendiri, karena Romadhon hanya hawa nafsu
yg kita perangi dan syaitan sdg dibelenggu oleh Allah
swt. Berusaha dan memaksakan diri walau kantuk atau
rasa malas datang.
4. Sadar bahwa bila tidak tercapai target 1 juz
sehari, maka berarti menambah beban di hari
berikutnya. Bila terjadi, memberi sanksi kepada diri
sendiri baik juga. Seperti seorang sahabat r.a yang
meberikan sebagian kebun yang beliau punya karena
membuatnya terlena dan terlambat sholat berjama’ah di
mesjid.
5. Sabar menjalaninya karena yakin

Begitu seterusnya hingga kita dapat melatih diri dan
menjadikan tilawah sbg bagian dari amalan harian kita
yang Insya Allah akan dinilai Allah. Amin.

Begitu juga untuk amalan/ibadah lainnya.

Wallahu a'lam bishshowab

Imar
 
< Prev   Next >
© 2010 Indonesian Muslim Society in America - Sisters (IMSA Sisters)
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.